Global Variables

Senin, 19 Maret 2012

Fawatihus Suwari

PENDAHULUAN

Studi atas Al-Quran telah banyak dilakukan oleh para ulama dan sarjana tempo dulu, termasuk para sahabat di zaman Rasulullah saw. Hal itu tidak lepas dari disiplin dan keahlian yang dimiliki oleh mereka masing-masing. Ada yang mencoba mengelaborasi dan melakukan eksplorasi lewat perspektif keimananm historis, bahasa dan sastra, pengkodifikasian, kemu’jizatanm penafsiran serta telaah kepada huruf-hurufnya.
Kondisi semacam itu bukan hanya merupakan artikulasi tanggung jawab seorang Muslim untuk memahami bahasa-bahasa agamanya. Tetapi sudah berkembang kepada nuansa lain yang menitikberatkan kepada studi yang bersifat ilmiah yang memberikan kontribusi dalam perkembangan pemikiran dalam dunia Islam. Kalangan sarjana Barat banyak yang melibatkan diri dalam pengkajian Al-Quran, dengan motivasi dan latar belakang kultural maupun intelektual yang berbeda-beda.
Al-Quran sebagai diketahui terdiri dari 114 surat, yang di awali dengan beberapa macam pembukaan (fawatih al-suwar). di antara macam pembuka surat yang tetap aktual pembahasannya hingga sekarang ini huruf muqatha’ah. Menurut Watt, huruf-huruf yang terdiri dari huruf-huruf alphabet (hijaiyah) ini, selain mandiri juga mengadung banyak misterius, karena sampai saat ini belum ada pendapat yang dapat menjelaskan masalah itu secara memuaskan.

 PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Apabila kita membaca Alquran yang diturunkan kepada mausia secara global, akan kita dapati bahwa ayat-ayat Al-quran itu ada yang bersifat muhkam dan ada juga yang bersifat mutasyabihat. Boleh jadi kita mengatakan bahwa semua ayat Alquran adalah muhkam, dan kita pun dapat mengatakan bahwa semua ayat Alquran adalah mutasyabihat. Hal ini berlandaskan kepada Surah Hud ayat 1 (untuk muhkam) dan pada Surah Az Zumar ayat 23 (untuk mutasyabihat).
Dari segi bahasa, fawatihus suwar berarti pembukaan-pembukaan surat, karena posisinya yang mengawali perjalanan teks-teks pada suatu surat. Apabila dimulai dengan huruf-huruf hijaiyah, huruf cenderung ‘menyendiri’ dan tidak bergabung membentuk suatu kalimat secara kebahasaan. Dari segi pembacaannya pun, tidaklah berbeda dari lafazh yang diucapkan pada huruf hijaiyah.
Fawatihus suwari adalah kalimat-kalimat yang dipakai umtuk pembukaan surah, ia merupakan bagian dari ayat mutasyabihat. Karena ia bersifat mujmal, mu’awwal dan musykil. Di dalam Alquran terdapat huruf-huruf awalan dalam pembukaan surah dalam bentuk yang berbeda-beda. Hal ini merupakan salah satu ciri kebesaran Allah dan kemahatahuanNya, sehingga kita terpanggil untuk menggali ayat-ayat tersebut. Dengan adanya suatu keyakinan bahwa  semakin dikaji ayat Alquran itu, maka semakin luas pengetahuan kita. Hal ini dapat dibuktikan dengan perkembangan ilmu tafsir yang kita lihat hingga sekarang ini.
Di sini hanya dikemukakan deskripsi tentang fawatih suwari sebagai salah satu kajian tafsir, dengan mengemukakan macam-macam bentuk serta pendapat ulama’ tentang hal tersebut.

B.     Macam-Macam Bentuk Fawatihus Suwari
Ada lima bentuk awalan yang dapat dilihat dalam Alquran2. Hal ini dikaji secara khusus dalam usaha mengetahui hikmahnya. Awalan surah tersebut adalah :
    1. Awalan surah yang terdiri dari satu huruf, ini terdapat pada tiga surah.
·               Surah Shad (QS.38)ص . والقرأن ذى الذكرى
·               Surah Qaaf (QS.50)ق . والقرأن المجيد
·               Surah Al qalam (QS.68)ن . والقلم وما يسطرون
    1. Awalan surah yang terdiri dari dua huruf, ini terdapat pada sepuluh surat :
·               Surah Al Mukmin (QS.40)حم
·               Surah Fushshilat (QS. 41)حم
·               Surah Asy Syura (QS. 42) حمّ
·               Surah Az Zukhruf (QS. 43) حمّ
·               Surah Ad Dukhan (QS. 44) حمّ
·               Surah Al Jatsiyah (QS. 45) حمّ
·               Surah Al Ahqaf (QS. 46)      حمّ
·               Surah Thaha (QS. 20)طه
·               Surah An Naml (QS. 27)طس
·               Surah Yasin (QS. 36)يسى
Tujuh dari sepuluh surah di atas dinamakan hawwaamiim[1]
    1. Awalan surah yang terdiri dari tiga huruf, ini terdapat pada tiga belas surah :
Enam surah diawali Alif Lam Mim ( الم )  
·               Surah Al baqarah (QS. 2)
·               Surah Ali Imran (QS. 3)
·               Surah Al Ankabut (QS. 29)
·               Surah Ar Rum (QS. 30)
·               Surah Al Lukman (QS. 31)
·               Surah As Sajadah (QS. 32)
Lima surah diawali dengan Alif Lam Ro( الر )
·               Surah Yunus (QS. 10)
·               Surah Hud (QS. 11)
·               Surah Yusuf (QS. 12)
·               Surah Ibrahim (QS. 14)
·               Surah Al Hijr (QS. 15)
Dua surah diawali dengan Tha Sin Mim( طسم )
·               Surah Asy Syura (QS. 26)
·               Surah Al Qashash (QS. 28)
    1. Awalan surah yang terdiri dari empat huruf, ini terdapat pada dua tempat, yaitu :
·               Surah Al Araaf (QS. 7)( المص )
·               Surah Ar Radu (QS. 13)( المر)
    1. Awalan surah yang terdiri dari lima huruf , ini hanya terdapat pada surah Maryam (QS. 19) ( كهيعص )

C.    Pendapat Ulama’ Tentang Fawatihus Suwari
Kajian tentang fawatihus suwari telah dikembangkan oleh para ahli tafsir terdahulu seperti Zamakhsyari.[2] Kemudian diikuti oleh Baidhawi. Demikian pula Ibnu Taimiyyah dan muridnya yang bernama Al-Hafidz Al-Mizi
Para ulama’ salaf dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabihat yang terletak pada awal surah berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut telah tersusun sejak jaman azali sedemikian rupa, melengkapi segala yang yang melemahkan manusia dari mendatangkan yang seperti Alqur’an.
Karena kehati-hatiannya, mereka tidak berani memberikan penafsiran dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf itu. Dan mereka berkeyakinan bahwa Allah sendiri yang mengetahui tafsirnya. Hal ini menjadi suatu kewajaran yang berlaku bagi ulama’ salaf karena mereka dalam teologi pun menolak terjun dalam pembahasan tentang hal-hal yang suci seperti ugkapannya, “istiwa Allah adalah  cukup diketahui, hal ini harus kita percayai, mempersoalkan hal itu adalah bid’ah”.
Ahli-ahli hadis menukilkan dari Ibnu  dan empat Khulafaur Rasyidin mereka berpendapat: “Huruf-huruf awalan yang sesungguhnya adalah ilmu yang tertutup dan mengandung rahasia yang  terselubung yang dikhususkan Allah”.
Kajian-kajian tentang Alquran telah berkembang sejalan dengan munculnya ilmu-ilmu tafsir dan atau Ulumul Alquran, yang disponsori oleh para mufassir, sehingga corak penafsiran sebuah ayat oleh jadi satu dengan yang lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa jika digali ayat-ayat Alquran itu secara mendalam, maka akan semakin hiduplah ayat Alquran itu.
Untuk lebih jelasnya dari apa yang telah dikemukakan di atas, kita akan melihat pendapat atau penafsiran para mufassir tentang fawatih assuwari, diantaranya adalah:

1.      Mufassir dari Kalangan Tasawuf
Ulama’ tasawuf berpendapat bahwa fawatih as-suwari, adalah huruf-huruf yang  yang masing-masing diambil dari nama Allah, atau yang tiap-tiap hurufnya merupakan pengganti dari suatu kalimat yang berhubungan dengan yang sesudahnya, atau huruf itu menunjukkan kepada maksud yang dikandung oleh surah yang surah itu dimulai dengan huruf-huruf yang terpotong-potong itu.
Kita ambil contoh mengenai makna fawatihus suwar kaaf, haa, yaa, ‘ain, shaad. Ibnu Abbas menafsirkan mengenai huruf-huruf tersebut dengan Kaaf(ك) berasal dari kata karim (Maha Penyantun, haa (هـ) berasal dari hadin (Maha Penuntun), yaa (ي) berasal dari kata hakim, ‘ain (ع) berasal dari kata ‘aliim (Maha Mengetahui, dan huruf Shaad (ص) berasal dari kata shaadiq(tidak berdusta.)
Selanjutnya Ibnu Abbas mengartikan kata alif, laam, shad bermakna Anallahush Shadiqu = Aku adalah Allah yang benar. Dan terkadang bermakna nama Allah sendiri Al-Mushawwiru. Dan kadang-kadang mengisyaratkan kepada tiga nama, alif diambil dari Allah, mim dari Ar-Rahman, dan Shaad dari Ash-shomad.
Adh Dhahak berpendapat bahwa alif, laam, raa ialah Ana Allahu a’lamu wa arfa’u (Aku  adalah Allah, Aku Mengetahui dan Aku mengangkat).3

2.      Mufassir Orientalis
Pendapat yang paling jauh menyimpang dari kebenaran adalah dari seorang orientalis yang bernama Noldeke, yang kemudian dikoreksi, bahwa awalan surah itu tidak lain adalah huruf depan dan huruf belakang dari nama-nama para Nabi. Misalnya, huruf sin adalah dari nama Sa’ad bin Abi Waqash, mim adalah huruf depan dari nama al-mughirah, huruf nun adalah akhir dari nama Ustman bin Affan, dan lain-lain
3.      Al-Khuwaibi
Al-Khuwaibi mengatakan bahwa kalimat-kalimat itu merupakan tanbih bagi Nabi. Mungkin ada suatu waktu Nabi dalam keadaan sibuk dan lain sebagainya.
4.      Rasyid Ridha
Ungkapan Rasyid Ridha, sedikit berbeda dengan apa yang dikemukakan Al-Khuwaibi. Rasyid Ridha berpendapat bahwa tanbih yang dimaksud di atas adalah dihadapkan kepada orang-orang musyrik di Mekkah, kemudian kepada ahli kitab di madinah.
5.      Mufassir dari Kalangan Syi’ah
Kelompok Syi’ah berpendapat bahwa jika huruf-huruf awalan itu di kumpulkan setelah dihapus ulangan-ulangannya maka akan berartiصراط علي على حق  “Jalan Ali adalah kebenaran yang kita pegang teguh”. Pentakwilan itu kemudian di jawab oleh Ahlu Sunnah, dan jawabannya berdasarkan pengertian yang mereka peroleh dari huruf-huruf awalan itu yang juga dihapus ulangan-ulangannya, dengan mengatakan “benarlah jalanmu bersama kaum Ahlu Sunnah”.

Dari pentakwilan para ahli tentang fawatih as-suwari, dapat dilihat bahwa pentakwilan sebuah ayat sangat banyak macamnya. Hal ini boleh jadi didasari oleh pendidikan dan ilmu-ilmu yang dimilikinya serta kecenderungan mereka mengkaji Alquran secara lebih luas. Pada prinsipnya tidak menutup kemungkinan bagi mereka, mufassir, untuk melahirkan sebuah tafsir yang dilandaskan dengan ilmu yang mendukung dan memadai bagi seorang mufassir.

D.    Urgensi Studi Fawatihus Suwar
Al-Qur’an memiliki banyak keistimewaan dari segi makna dan kebahasaan. Fawatihus suwar merupakan salah satu realitas keistimewaan misterius yang terdapat di dalam Al_Qur’an . Pemaparan tentang fawatihus Suwar, khusunya menyangkut Al-Huruf Al Muqotta’ah, tidak banyak bahkan hampir tidak ada yang berhasil mengungkapkan latar belakang ataupun keterangan yang valid yang secara historis bisa membuktikn hubungan-hubungan fawaitus suwar.
Dari segi makna, memang banyak sekali penafsiran-penafsiran spekulatif terhadap huruf-huruf itu. Dikatakan spekulatif, karena penafsiran-penafsiran mengenai hal itu tidak didahului pengungkapan konteks historisnya.  Lain halnya dengan Fawatihus Suwar dalam bentuk lain misalnya Al Qosam (sumpah), An Nida’ (seruan), Al Amr (perintah), Al Istifham (pertanyaan) dan lain-lain. Urgensi telaah terhadap fawatihus suwar tidak terlepas dari konteks penafsiran Al-Qur’an. Pengggalian-penggalian makna yang terlebih dahulu melalui karakter bab ini, akan memberikan nuansa tersendiri, baik yang didasarkan pada data historis yang konkrit ataupun penafsiran yang menduga-duga. Lebih dari itu tentu saja kita tetap meyakini eksistensi Al-Qur’an, kebesarannya, keagungannya, juga rahasia kemu’jizatannya.


PENUTUP

Kesimpulan
            Pendapat ulama-ulama tentang fawatih as-suwari dapat di kelompokkan menjadi tiga kelompok. Pertama, menyatakan bahwa huruf-huruf muqaththa’ah pada permulaan surah merupakan ayat-ayat mutasyabihat yang bentuknya mujmal. Jika diperhatikan seluruh awalan surah yang ada dalam Alquran dengan teliti, maka akan didapati bahwa bentuk awalan surah itu terdiri dari satu huruf sampai lima huruf. Kedua, ada ulama yang menyatakan bahwa huruf-huruf muqaththa’ah pada awal surah merupakan ayat-ayat dzanni. Ketiga, Ibnu hazm menyatakan bahwa seluruh ayat Alquran itu muhkamat kecuali ayat-ayat muqaththa’ah.
            Fawatihus suwar yang tersusun dari separo huruf hijaiyyah itu dapat dijadikan suatu ilmu atau pengetahuan bagi manusia untuk menyadari bahwa Allah Mahaadil dan Maha Mengetahui.
            Dalam konteks dialogis Allah menurunkan ayat-ayat Alquran dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat Mekah. Hal ini satu sisi menjadi kebanggaan umat Islam dan pada sisi lain menjadi bukti kemahakuasaan Allah untuk melemahkan mereka yang berkeinginan menciptakan ayat-ayat seperti Alquran.





DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Abu. 2002. Ulumul Qur’an Sebuah Pengantar. Pekanbaru. Amzah
Sholeh, Subhi. 1995. Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Jakarta. Pustaka Firdaus
Ash-Shiddieqy, 1995. Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Jakarta. Bulan Bintang
Ash-Shiddieqy, Hasbi. 2002. Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Semarang:PT. Pustaka Rizki Putra


[1] Hawwaamiim (jamak dari haa miim), surah-surah yang diawali dengan ha dan mim. Lihat pada H. Hasbi Ash-Siddieqy, Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Jakarta, Bulan Bintang, 1995, hlm. 124

[2] Subhi Sholeh, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Jakarta, Pustaka Firdaus, 1995, hlm. 304.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar